top of page

TERMINOLOGI DASAR: SCENE

Diperbarui: 16 Jul 2020

Seperti yang sudah dijelaskan dalam terminologi shot, bahwa yang dibangun oleh shot-shot adalah SCENE. Ada penamaan lain dari scene yaitu adegan. Dalam sebuah film, scene secara umum dipahami sebagai aksi (action) pada suatu peristiwa yang terjadi di dalam satu ruang dan satu waktu. Pemahaman ini memang tidak salah. Akan tetapi dapat juga dibandingkan dengan pemahaman dari beberapa referensi.

Dalam beberapa kamus film dan buku teks film terdapat pendapat atau pemahaman yang sama tentang scene dan masih melibatkan aspek teknis di dalamnya. Virginia Oakey menyatakan bahwa suatu scene merupakan serangkaian shot yang saling berkaitan dan dilakukan dalam aksi (action) berkelanjutan.[1] Sedangkan Ralph Singleton mengatakan bahwa scene dapat berupa shot tunggal atau serangkaian shot yang terjadi di lokasi atau menyajikan aksi (action) atau aktivitas utama dalam film.[2]

Frank Eugene Beaver melihat bahwa yang disebut satu scene adalah suatu aspek di dalam film yang biasanya terdiri dari satu shot atau lebih dan saling berkaitan satu sama lain serta disatukan oleh lokasi atau kejadian dramatis.[3] Timothy Corrigan dan Patricia White yang menyatakan bahwa satu scene adalah satu shot atau lebih yang menggambarkan ruang dan waktu yang berkelanjutan.[4] Richard Barsam dan Dave Monahan memaparkan bahwa yang disebut satu sce adalah satu shot atau lebih yang menyajikan satu action plot yang lengkap dan disertai pengaturan aksi (action) terebut.[5]

Christopher Bowen menggunakan aspek yang lebih luas, yaitu bahwa sebuah scene merupakan sebuah segmen di dalam film yang berlangsung di satu lokasi. Sebuah scene dapat terdiri dari banyak shot dari sudut kamera yang berbeda. Tetapi bisa juga hanya satu shot dari camera set-up tertentu.[6] Menurut Louis Giannetti yang disebut scene adalah suatu aspek di dalam film yang bisa dibilang tidak presisi. Terdiri dari sejumlah shot yang saling berkaitan satu sama lain. Biasanya disatukan oleh bahasan utama dari bagian cerita di dalam film misalnya lokasi, insiden atau klimaks kecil dalam peristiwa yang dramatis.[7]

Dalam beberapa buku teks yang lain juga memaparkan hal yang serupa. Namun cenderung tidak membahas aspek teknisnya. Williams H. Phillips menyatakan bahwa satu scene adalah bagian dari cerita (di dalam film) yang memberi kesan aksi berkelanjutan serta terjadi di dalam ruang dan waktu yang berkesinambungan.[8] Maria T. Pramaggiore dan Tom Wallis memaparkan bahwa scene merupakan sebuah unit cerita yang lengkap dalam sebuah film. Memiliki bagian awal, tengah dan akhir sendiri. Seringkali scene disatukan dan dibedakan satu sama lain berdasarkan setting (ruang dan waktu).[9] David Bordwell, Kristin Thompson dan Jeff Smith mengungkapkan bahwa sebuah scene merupakan sebuah segmen dalam film naratif yang terjadi dalam satu waktu dan ruang. Bisa juga menggunakan cross-cutting untuk menunjukkan dua aksi (action) atau lebih secara simultan.[10]

Berbeda dengan Annette Kuhn dan Guy Westwell yang mencoba menjelaskan lebih lengkap. Menurut mereka, scene merupakan tindakan terpadu dalam film yang membuat alur (plot) menjadi maju. Juga mengungkap peristiwa dalam cerita dan memberikan informasi baru. Adegan biasanya diatur dalam satu lokasi dan dalam satu periode waktu. Bisa terdiri dari satu shot atau serangkaian shot. Scene juga bisa dimaknai sebagai setting dalam wujud fisik atau lokasi (tempat) suatu aksi (action) berlangsung. Sementara skenario film akan mengidentifikasi sebuah scene – misalnya kantor – sebagai peristiwa yang terjadi di lokasi tertentu. Contohnya INT. KANTOR – SIANG. Dalam sebuah film, scene dapat ditentukan berdasarkan lokasi, latar tempat (setting ruang) dan juga fungsinya dalam cerita film. Contoh lain adalah dua tokoh (karakter) yang sedang berbicara di telepon di lokasi berbeda. Hal tersebut dapat dikatakan dua scene untuk tujuan skenario, akan tetapi dapat dikatakan sebagai satu scene dalam persprektif cerita.[11]

Bila ditinjau lebih jauh, maka pemahaman dari scene dari paparan di atas dapat dikumpulkan beberapa komponen, baik secara teknis ataupun non-teknis. Secara teknis satu scene dapat terdiri dari satu shot atau lebih. Bila dalam satu scene menggunakan lebih dari satu shot, juga memungkinkan untuk menggunakan camera set-up yang berbeda pada setiap shot-nya. Akan tetapi antara satu shot dengan shot yang lainnya saling berkaitan.

Sedangkan dalam aspek non-teknis, sebuah scene merupakan satu unit atau segmen peristiwa dalam cerita film yang meliputi beberapa hal yaitu ruang, waktu dan aksi (action) berkelanjutan. Seperti yang sudah disinggung pada awal tulisan, dapat dikatakan bahwa satu scene adalah suatu aksi (action) berkelanjutan pada peristiwa tertentu yang terjadi di dalam satu ruang dan satu waktu. Terkadang seorang pembuat film membuat setiap scene-nya seolah-olah memiliki three act structure, yaitu menggunakan pola awal-tengah-akhir. Sekali lagi tidak selalu, karena segala sesuatunya akan terkembali pada kebutuhan dari cerita film yang sedang dibuat.

Untuk fungsinya sendiri, seperti yang dikatakan Annette Kuhn dan Guy Westwell bahwa scene dapat mengungkap peristiwa dalam cerita film; dapat membuat plot bergerak maju; dan juga memberikan informasi baru kepada penontonya.

[1] Virginia Oakey, Dictionary of Film and Television Terms, (New York: Barnes & Noble. 1983), hal. 154. [2] Ralph Singleton, Filmmaker’s Dictionary (Los Angeles : Lone Eagle Publishing Co. 1990), hal. 145. [3] Frank Eugene Beaver, Dictionary of Film Terms: The Aesthetic Companion to Film Analysis (New York: Twayne’s Publisher. 1994). hal. 302. [4] Timothy Corrigan dan Patricia White, The Film Experience: an Introduction. Edisi Ketiga (Boston: Bedford/St. Martin's. 2012), hal. 478. [5] Richard Barsam dan Dave Monahan, Looking at Movies: An Introduction to Film, Edisi Ketiga (New York: W.W. Norton & Co. 2010), hal. 557. [6] Christopher Bowen, Grammar of the Edit, Edisi Keempat (New York: Routledge. 2017). hal. 294. [7] Louis Giannetti, Understanding Movies. Edisi Ketigabelas (Boston: Pearson. 2014), hal. 527. [8] Williams H. Phillips, Film: An Introduction, Edisi Keempat (New York: Bedford/St. Martin's. 2009). hal. 686. [9] Maria T. Pramaggiore dan Tom Wallis, A Critical Introduction, Edisi Kedua (London: Pearson. 2007), hal. 437. [10] David Bordwell, Kristin Thompson dan Jeff Smith, Film Art : an Introduction, Edisi Kesebelas (Chicago: MacGraw-Hill. 2017). hal. G-5. [11] Annette Kuhn dan Guy Westwell, A Dictionary of Film Studies (Oxford University Press. 2012). hal 575.

53 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Kommentare


bottom of page