top of page

TERMINOLOGI DASAR: EDITING FILM

Diperbarui: 11 Feb 2022

Mendengar kata editing, sesuatu yang terlintas dalam pikiran adalah memotong dan menyambung gambar. Pemikiran ini memang tidak salah, tetapi tidak seratus persen benar. Ternyata, profesi seorang editor tidaklah mudah seperti yang dibayangkan, memotong dan menyambung gambar. Ada banyak tahap yang harus dilalui untuk bisa membantu sutradara dan produser menghasilkan film terbaik menurut versi mereka. Sebelum jauh membahas editing, maka perlu dipahami terlebih dahulu definisi dari editing itu sendiri.


Dalam beberapa kamus film dan buku teks film terdapat pendapat atau pemahaman yang kurang lebih sama tentang editing film. Bagaimanapun, definisi editing sendiri memang tidak sesederhana yang dibayangkan. Ada akademisi dan teoritisi yang mendefinisikannya dengan sederhana. Tetapi ada pula yang mendefinisikan dengan paparan yang cukup panjang.


Pendapat pertama dapat dilihat seperti yang dikemukakan oleh David Bordwell, Kristin Thompson dan Jeff Smith dalam buku mereka yang berjudul Film Art: An Introduction. Menurut mereka editing terbagi menjadi dua definisi. Dalam pembuatan film, editing adalah tindakan dalam memilih dan menggabungkan shot-shot yang diambil dengan kamera. Sedangkan pada film yang sudah selesai dibuat, editing adalah seperangkat teknik yang mengatur hubungan antar shot.[1] Sedangkan Brewer's Cinema: A Phrase and Fable Dictionary menyebutkan bahwa editing adalah penyusunan potongan-potongan shot yang terpisah dan terkadang disebut dengan cutting.[2] William H. Phillips menyatakan bahwa editing adalah tindakan untuk memilih dan mengatur sequence yang diproses dari materi shot (film atau kaset video).{3}


Pendapat lain adalah dari Ralph Singleton yang menyatakan bahwa editing merupakan proses memilih, menyusun, dan menyusun gambar dan suara sehingga menjadi alur cerita yang logis dan memiliki irama.[4] Sedangkan Virginia Oakey mencoba memisahkan kata edit dan editing. Menurutnya edit adalah tindakan untuk mengkorelasikan, menyusun, menyinkronkan, memangkas, atau memotong film. Tindakan ini juga termasuk menyatukan gambar dan suara agar tercapai porsi dan proporsi yang tepat. Sedangkan editing adalah proses kreatif dalam mengkorelasikan, menata ulang, menyinkronkan dan memotong film, baik audio maupun visual, untuk menghasilkan versi final yang diinginkan.[5]


Christopher Bowen sangat menarik pendapatnya tentang definisi editing, di mana ia mencoba untuk mengurainya dari penggunaan katanya. Sebagai kata kerja transitif, "mengedit" dapat berarti meninjau, memperbaiki, memodifikasi, membuang, dan/atau menyusun shot-shot menjadi wujud baru yang dapat diterima oleh penonton. Terminologi ini pertama kali digunakan secara luas pada bidang penulisan. Kemudian diserap oleh film dan diterapkan pada gambar bergerak serta kreasi suara.[6]


Untuk pembuat film, istilah "editing" adalah kata benda. Definisinya adalah tindakan penyusunan gambar dan suara (shot) sebagai individual clip yang kemudian dijadikan sebuah cerita yang koheren. Oleh karena itu, editor adalah orang yang menyusun sekumpulan materi gambar dan suara. Dimulai dari menonton materi tersebut, menyusun, memotong, menyambung, menyempurnakan, memodifikasi komponen-komponen gambar dan suara sehingga menjadi bentuk atau cerita baru yang dapat diterima oleh penonton.[7] Richard Barsam dan mendefinisikan editing sebagai kekuatan kreatif dasar sinema, yaitu proses menggabungkan dan mengkoordinasikan shot-shot menjadi keseluruhan film.[8] Sedangkan Annette Kuhn dan Guy Westwell memaparkan bahwa editing adalah penyusunan shot-shot yang terpisah, terkadang disebut cutting.[9]


Kuhn dan Westwell juga menambahkan bahwa pemahaman editing tidak hanya milik seorang editor. Karena editing merupakan proses yang kompleks dalam pengambilan keputusan selama praproduksi yang berkaitan dengan setups, shooting, dan scene yang akan diambil nantinya. Didefinisikan begitu, karena editing tidak hanya melibatkan editor film tetapi juga orkestrasi yang cermat pengarahan sutradara, akting pemain, gambar yang diambil sinematografer, suara yang direkam sound recordist serta dekorasi dan special effect yang ditata oleh penata artistik.[10]


Beberapa pendapat di bawah ini menggunakan profesi editor untuk menunjukan definisi kata editing. Frank Eugene Beaver berpendapat bahwa editor merupakan individu yang bertanggung jawab atas konstruksi estetika film pada tahap pascaproduksi. Dalam pembuatan film, editor yang akan menentukan gaya cutting, transisi, dan pengembangan naratif (penceritaan). Penyusunan ulang adegan secara cerdas akan membantu penciptaan efek dramatik dan peningkatan ritme. Selain itu juga membuang materi yang tidak digunakan. Sutradara dan produser bekerja sama dengan editor dalam membuat keputusan editing ini. Terutama saat tahapan roughcut (first assembly) dan final cut.[11] Ralph Singleton menambahkan bahwa dalam tahapan editing, rough cut merupakan first assembly yang dari footage yang dipilih. Fine cut adalah rough cut yang dikerjakan dalam versi lebih rumit. Sedangkan final cut adalah versi yang nantinya akan disesuaikan dengan hasil akhirnya. Namun, perlu dicatat bahwa proses editing berkembang dan bukan suatu tahapan yang kaku.[12]


Sedangkan menurut Maria T. Pramaggiore dan Tom Wallis, editor adalah orang yang bertanggung jawab untuk menyusun sebuah film dari kumpulan footage yang kemudian dikembangkan; dan mengambil penggunaan pacing, transisi pengambilan shot, serta memutuskan shot atau scene mana yang akan digunakan.[13] Lebih detail lagi ditambahkan oleh William H. Phillips bahwa seorang editor terkadang bekerja sama dengan sutradara untuk menentukan shot paling efektif yang akan digunakan, ukuran durasi shot-nya, dan transisi antara shot-nya.[14]


Dari pendapat-pendapat di atas, maka dapat dipahami bahwa editing adalah suatu koordinasi antara shot satu dengan shot lain yang terpisah. Koordinasi yang dilakukan dilakukan editor pada tahapan editing adalah dengan cara menonton footage (materi); membuang shot-shot yang tidak digunakan; melakukan assembly atau pengurutan shot; membuat rough cut; membuat fine cut; hingga menjadi final cut. Selama proses editing berlangsung, editor terkadang akan mempresentasikan pekerjaannya dalam setiap tahap kepada sutradara. Hal inilah yang membuat film yang dibuat akan semakin sempurna. Diskusi yang terjadi antara sutradara dan editor serta produser sangatlah penting, demi hasil yang diinginkan.


Menurut penulis, ada satu hal lagi yang penting dalam editing. Sebelum melakukan koordinasi terhadap materi shot-nya, editor harus mempertimbangkan banyak hal. Pertimbangan tersebut sangat berkaitan dengan ilmu lain di dalam film, yaitu penulisan skenario, mise-en-escѐne, sinematografi, suara, penyutradaraan dan lain sebagainya. Selain itu juga perlu dipahami bahwa editing tidak hanya berkaitan dengan editor. Pemikiran tentang editing film sudah harus ada sejak praproduksi. Oleh karena itu setiap pimpinan divisi yang akan bekerja di lapang harus memiliki editorial thinking. Baik seorang penulis skenario, sutradara, sinematografer, penata artistik, sound recordist dan yang lainnya. Karena hal tersebut sangat berpengaruh pada kualitas shot (footage) yang akan dihasilkan nantinya.


Bila coba disimpulkan, maka menurut penulis definisi editing adalah koordinasi secara kreatif antara shot satu dengan shot lain yang sesuai dengan skenario, konsep cerita atau ide film yang sedang dibuat dengan mempertimbangkan mise-en-escѐne, sinematografi dan suara. Secara sederhana koordinasi yang dimaksud adalah menyeleksi materi shot, memotong, menyambung, dan menyusun sehingga menjadi film yang diinginkan pembuatnya.



Endnote:


[1] David Bordwell, Kristin Thompson dan Jeff Smith, Film Art : an Introduction, Edisi Keduabelas (Chicago:MacGraw-Hill. 2019). hal. G-2.


[2] Johnathan Law (Ed.), Brewer's Cinema: A Phrase and Fable Dictionary. (London: Cassell. 1995), hal. 136.


[3] Williams H. Phillips, Film: An Introduction, Edisi Keempat (New York: Bedford/St. Martin's. 2009). hal.673.


[4] Ralph Singleton, Filmmaker’s Dictionary (Los Angeles : Lone Eagle Publishing Co. 1990), hal. 102


[5] Virginia Oakey,Dictionary of Film and Television Terms, (New York: Barnes & Noble. 1983), hal. 62.


[6] Christopher Bowen, Grammar of the Edit, Edisi Keempat (New York: Routledge. 2017). hal. 20.


[7] Ibid.


[8] Richard Barsam dan Dave Monahan, Looking at Movies: An Introduction to Film, Edisi Ketiga (New York: W.W. Norton & Co. 2010), hal. 496.


[9] Annette Kuhn dan Guy Westwell, A Dictionary of Film Studies (Oxford University Press. 2012). hal 136-137.


[10] Ibid.


[11] Frank Eugene Beaver, Dictionary of Film Terms: The Aesthetic Companion to Film Analysis (New York: Twayne’s Publisher. 1994). hal.132.


[12] Ralph Singleton, Filmmaker’s Dictionary (Los Angeles : Lone Eagle Publishing Co. 1990), hal. 102


[13] Maria T. Pramaggiore dan Tom Wallis, Film: A Critical Introduction, Edisi Kedua (London: Pearson. 2007), hal. 433.


[14] Williams H. Phillips, Film: An Introduction, Edisi Keempat (New York: Bedford/St. Martin's. 2009). hal.673.


























92 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comentários


bottom of page