top of page

SEJARAH FILM DOKUMENTER AWAL DUNIA

Diperbarui: 15 Apr

ABSTRAK


Penelitian ini secara kritis bertujuan untuk mempertanyakan kebenaran bahwa film-film Robert Flaherty adalah film dokumenter awal di dunia. Terminologi film dokumenter dikemukakan oleh John Grierson setelah menonton film Moana(1926) karya Robert Flaherty. Film dokumenter menurutnya adalah perlakuan aktualitas secara kreatif (creative treatment of actuality). Untuk menjawab hal tersebut, metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini metode sejarah. Ada tiga tahap dalam metode ini, yaitu pencarian sumber keterangan atau bukti sejarah (heuristik); penilaian atau pengujian bahan-bahan sumber dari sudut pandang nilai kenyataannya (kritisisme); dan sinthese atau penyajian yang bersifat formal dari temuan. Tahap ini meliputi penyusunan kumpulan data sejarah dan kemudian penyajiannya dalam bentuk tertulis. Teknik pengumpulan datanya akan menggunakan studi kepustakaan dan dokumen. Sedangkan analisis datanya akan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi, antropologi dan politik. Ada yang menarik bahwa pada awal film dibuat, terdapat film-film karya Brighton School, yaitu perkumpulan fotografer di Inggris yang telah membuat film dokumenter. Hanya saja film ini kemudian baru ditemukan pada kurun waktu 1970-an. Sangat mungkin film-film tersebut merupakan film-film dokumenter awal di dunia.


Kata Kunci: Dokumenter, John Grierson, Brighton School



I. PENDAHULUAN


Pada tanggal 8 Februari 1926, seorang sosiolog bernama John Grierson menerbitkan tulisannya di harian The New York Sun setelah menonton film Moana karya Robert Flaherty yang dirilis pada tahun yang sama. Pada saat itu, Grierson untuk pertama kalinya memperkenalkan terminologi film dokumenter (documentary film). Baginya, Robert Flaherty tidak lagi menggunakan cara bercerita model film fiksi Hollywood. Dalam Directing the Documentary, John Grierson mengartikan dokumenter sebagai perlakuan aktualitas secara kreatif atau creative treatment of actuality (Rabiger dan Hermann 20). Setelah itu, Grierson menyinggung kembali terminologi dokumenter dalam esainya yang berjudul First Principle of Documentary. Tulisannya tersebut dipublikasikan oleh Cinema Quarterly dari tahun 1932 sampai dengan 1934 (Katz dan Nolen 406).


Sampai sekarang ini, masih banyak pengamat atau pun pembuat film dokumenter yang meyakini bahwa film-film Robert Flaherty merupakan film dokumenter awal di dunia. Terutama beberapa film awalnya, seperti Nanook of the North (1922), Moana (1926), dan Man of Aran (1934). Film Nanook of the North dan Moana sendiri menjadi kontroversi dan polemik di kalangan teoretisi film, karena dianggap terlalu banyak campur tangan Flaherty di dalam peristiwanya.


Menurut Jill Nelmes, Flaherty tidak segan-segan mengarang peristiwa saat menggambarkan kehidupan keluarga Suku Inuit yang tinggal di bagian utara Kanada. Salah satu contohnya adalah membangun igloo (rumah suku Eskimo) dengan sisi yang terbuka. Hal tersebut bertujuan agar dapat melakukan syuting interior. Hal yang lebih kontroversial lagi adalah penggunaan tombak tradisional saat perburuan tokoh Nanook. Tokoh yang memerankan Nanook secara faktual sudah menggunakan senjata modern saat berburu. Selain itu, Flaherty juga memasukkan adegan penduduk asli Polinesia sedang melakukan ritual yang sudah lama tidak mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari dalam film Moana (216).


Adanya fakta-fakta di atas, tidak membuat film-film Robert Flaherty luntur sebagai film dokumenter awal, karena sudah terlanjur melekat dengan terminologi dokumenter yang digagas John Grierson. Sebagian besar masyarakat film di Indonesia sendiri juga tidak kritis dengan mencari fakta dan mempertanyakan lagi kebenaran film Nanook of the North sebagai film dokumenter pertama di dunia. Banyak orang yang sudah menerima begitu saja (taken for granted) fakta yang disajikan tentang film tersebut.


Tujuan dari penelitian ini adalah mencoba kritis dan mengetengahkan lagi film-film yang dapat disebut film dokumenter awal. Walaupun ada beberapa permasalahan yang menyebabkannya, namun seharusnya bisa diangkat ke permukaan dalam sejarah film dunia. Harapan ke depannya adalah adanya studi lanjutan yang dapat membongkar lebih banyak referensi film-film dokumenter sebelum tahun 1920-an.


Secara umum, penulisan sejarah film dimulai dari pengujian persistence of vision; penayangan gambar yang diproyeksikan; dan penemuan teknologi fotografi. Tiga aspek tadi kemudian mempengaruhi munculnya teknologi perekaman serta penayangan kembali gambar bergerak yang kemudian dikenal dengan film. Kemudian muncul dua bersaudara dari Prancis bernama Louis dan August Lumière yang menyempurnakan teknologi tersebut. Mereka berhasil menayangkan hasil rekamannya di Grand Café di salah satu sudut kota Paris (Thompson dan Bordwell 9). Film-film yang mereka tayangkan adalah hasil perekaman langsung para pekerja pabrik mereka dan kereta api yang akan memasuki stasiun. Kemudian film-film tersebut diberi judul Workers Leaving the Lumière Factory (1895) dan The Arrival of a Train (1896).


Sebenarnya film ini lebih dekat sebagai film dokumentasi, tetapi banyak yang menganggap bahwa film-film ini adalah cikal-bakal film dokumenter. Kata film pada tipe ini sebenarnya merujuk pada aspek teknis film. Film dokumentasi adalah perekaman menggunakan teknologi film yang di dalamnya terkandung data, informasi atau dokumen. Hal-hal tersebut nantinya diperlukan sebagai catatan atau bukti dengan tujuan tertentu (Hermansyah 60). Bila film-film mereka hanya berupa dokumentasi, maka film apakah yang bisa dianggap sebagai film dokumenter awal? Faktor-faktor apakah yang menyebabkan film-film tersebut belum diakui sebagai film dokumenter awal?



II. METODE PENELITIAN


Pendekatan penelitian ini menggunakan salah satu pendekatan dalam metode penelitian kualitatif, yaitu metode penelitian sejarah. Menurut Nina Herlina, penelitian sejarah merupakan penelitian yang mempelajari kejadian atau peristiwa yang berkaitan dengan manusia di masa lampau. Tujuannya adalah untuk merekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif (1). Dalam buku Metode Sejarah, Gilbert J. Garraghan mengungkapkan bahwa metode sejarah merupakan seperangkat prinsip dan aturan sistematis yang berkaitan dengan sejarah. Perangkat dan aturan tersebut berfungsi untuk membantu dalam pengumpulan sumber-sumber sejarah, menilainya secara kritis, dan menyajikan sintesis hasil yang dicapai. Hasil sintesis tersebut umumnya dalam bentuk tertulis (Herlina 1-2).


Dari pengertian tersebut, maka terdapat tiga tahap yang dapat dilakukan dalam metode sejarah. Pertama, pencarian bukti-bukti sejarah atau sumber-sumber keterangan. Tahap ini sering disebut dengan heuristik dan merupakan tahap awal di dalam semua penulisan sejarah. Kedua, penilaian atau pengujian bahan-bahan sumber dari sudut pandang kebenarannya (nilai kenyataan) semata-mata dan sering disebut kritik sumber (kritisisme). Ketiga, penyajian yang bersifat formal dari temuan berdasarkan kegiatan heuristik dan kritisisme. Tahap ini meliputi penyusunan kumpulan data sejarah dan kemudian penyajian atau penceritaannya di dalam batas-batas kebenaran yang objektif, baik arti atau maknanya. Penyajian pada umumnya dalam bentuk tertulis dan tahap ketiga ini disebut sinthese (Wasino dan Hartatik 11-12).


Pada penelitian ini sumber dan bukti sejarah bisa didapatkan melalui situs daring YouTube. Sumber-sumber lain melalui buku dan situs daring tentang perfilman Inggris di masa awal. Untuk menguji dan menilai, penulis mengandalkan buku dan jurnal yang mengulas tentang definisi film dokumenter. Sedangkan untuk pendekatan penyajiannya, penulis menggunakan pendekatan politik, sosiologi, dan antropologi.


Dalam buku Metode Penelitian Sejarah: Dari Riset Hingga Penulisan, sejarah dalam arti objektif adalah sebagai peristiwa yang hanya sekali terjadi (einmalig). Keseluruhan proses peristiwa yang berlangsung terlepas dari subjek mana pun. Oleh karena itu, objektif yang dimaksud adalah dalam pengertian tidak memuat unsur-unsur subjek, baik pengamat maupun penulis (Wasino dan Hartatik 7). Sartono Kartodirdjo menyatakan dalam buku yang sama bahwa sejarah dalam arti subjektif merupakan konstruksi yang disusun oleh penulis sebagai uraian atau cerita. Hal tersebut merupakan kesatuan yang terrangkaikan dan mencakup fakta-fakta untuk menggambarkan gejala sejarah, baik proses maupun struktur (Wasino dan Hartatik 6).



III. PEMBAHASAN

1. Film-Film Brighton School dan Newsreel

Mengungkap fakta sejarah tidak semudah membalik telapak tangan. Inggris adalah salah satu negara yang ilmuwannya memberi sumbangsih pada teknologi film. Salah satunya adalah William Friese-Greene, seorang ilmuwan yang menemukan teknologi bernama Chronophotographic Camera. Perangkat ini dapat merekam 10 gambar per detik (frame per second). Thomas Alva Edison kemudian membeli alat ini dan mematenkannya di Amerika Serikat. Ia memberi nama alat tersebut Kinetograph Camera. Cara untuk melihat pertunjukan alat ini belum menggunakan sistem proyeksi, tetapi dengan cara mengintip. Oleh karena itu, setiap film hanya bisa disaksikan oleh satu orang saja. Edison memberi alat untuk menonton ini dengan nama Kinetoscope.


Sistem proyeksi film yang awal ditemukan oleh dua bersaudara dari Jerman, yaitu Max dan Emil Skladanowsky. Mereka memberi nama temuannya Bioscope dan menggunakan dua strip film yang berjalan berdampingan. Masing-masing film memiliki lebar 3,5 inci dan masing-masing film diproyeksikan secara bergantian. Skladanowsky bersaudara menunjukkan film berdurasi lima belas menit pada tanggal 1 November 1895 di suatu teater vaudevillebesar di Berlin. Ternyata sistem Bioscope ini terlalu rumit dan kemudian Skladanowsky bersaudara akhirnya mengadopsi standar film strip tunggal dengan lebar 35mm. Film strip tunggal yang digunakan oleh penemu yang lebih berpengaruh. Mereka berkeliling Eropa sampai tahun 1897, tetapi tidak mendirikan perusahaan produksi yang stabil (Thompson dan Bordwell 8).


Beberapa tahun kemudian, perangkat-perangkat inilah yang kemudian hari disempurnakan oleh Louis dan August Lumière dengan penambahan teknik intermittent movement. Teknik ini mengadopsi dari teknik mesin jahit, sehingga penyinaran terhadap film menjadi sempurna dan gambar yang ditayangkan menjadi lebih jelas. Setelah mempertunjukkan film-film mereka di Grand Café di Paris, Lumière bersaudara kemudian mengirim para operator kamera ke seluruh penjuru dunia. Film-film dokumentasi yang didapatkan kemudian diputar di Prancis. Film-film seperti ini kemudian dikenal dengan istilah newsreel. Menurut Ephraim Katz dan Ronald Dean Nolen, newsreel atau disebut juga film berita adalah jurnal film tentang peristiwa terkini (1076). Frank Eugene Beaver menambahkan bahwa newsreel adalah jenis film pendek berdurasi 10-15 menit yang muncul sebagai bagian dari program film, sampai munculnya televisi pada 1950-an. Biasanya berisi kompilasi berita dalam waktu yang tidak jauh dengan saat pemutaran dan terkadang memuat satu atau dua feature yang menarik bagi masyarakat (257-258).


Film-film dokumenter awal dianggap kurang lebih sama dengan newsreel. Pada masa itu memang masih terkendala dengan suara. Film-film yang ditampilkan adalah film bisu dan yang menjadi kekuatannya adalah gambar dan tulisan. Bila diamati lebih teliti, beberapa film sudah menggunakan pendekatan yang berbeda. Film-film tersebut memperlihatkan proses dari suatu peristiwa. Beberapa film tersebut dibuat oleh perkumpulan fotografer di kota Brighton, Inggris. Mereka dikenal dengan sebutan “Brighton School” yang memang lebih masyhur dengan film-film fiksinya seperti The Big Swallow (1901), Stop Thief! (1901), dan Fire (1901) karya James Williamson; Twin’s Tea Party (1896) karya Robert Paul; serta The Kiss in the Tunnel (1899), Grandma’s Reading Glass (1900), dan Mary Jane Mishap (1903) karya George Albert Smith.


Sebenarnya mereka juga memproduksi beberapa film nonfiksi yang diberi judul A Visit to Peek Frean and Co.’s Biscuit Works (1906) dan Making Christmas Crackers (1910) yang diproduksi oleh Cricks & Martin Co. Selain itu, ada pula film yang berjudul A Day in the Life of a Coalminer (1910) yang diproduksi oleh Kineto Co. (Hermansyah 58). Sekali lagi, film-film ini dianggap menyerupai newsreel, sehingga tidak ada yang memperhatikan perbedaannya. Bila ditinjau dengan lebih seksama, film-film tersebut berbeda dengan film-film berita pada masa itu. Ketiga film di atas sudah mencoba menggunakan susunan penceritaan secara kronologis. Kebetulan sekali ketiganya memberikan informasi secara berurut tentang suatu proses dalam aktivitas tertentu.


Film A Visit to Peek Frean and Co.’s Biscuit Works bercerita tentang proses pembuatan biskuit. Mulai dari membuat adonan, mencetak, memanggang, mengemas hingga kereta-kereta kuda yang keluar dari pabrik untuk mendistribusikan biskuit tersebut. Film Making Christmas Crackers memperlihatkan proses pembuatan hadiah natal tradisional di Inggris. Akhir dari film ini diberikan sentuhan fiksi tentang keluarga yang sedang merayakan Natal dan kemudian sinterklas datang tiba-tiba untuk memberikan hadiah. Film A Day in the Life of a Coalminer bercerita proses penambangan batu bara di Inggris. Ada kemiripan dengan film sebelumnya, yaitu penggunaan aspek fiksi di awal dan akhir film. Pada awal film ini terdapat pengadeganan seorang suami yang diantar oleh istri dan anak-anaknya berangkat kerja. Pada akhir film diperlihatkan lagi adegan suami pulang kerja yang disambut istri dan anaknya. Penutup film ini diperlihatkan mereka sekeluarga menghabiskan waktu di ruang tengah dekat perapian.



2. Faktor-Faktor Penyebab Film-Film Brighton School Belum Diakui sebagai Film Dokumenter Awal


Sesungguhnya film-film Brighton School baru ditemukan kembali pada tahun 1970-an. Isu tersebut baru diangkat lagi pada tahun 1978 saat diselenggarakan kongres The International Federation of Film Archives (FIAF) di kota Brighton (Hermansyah 94). Masyarakat perfilman dunia baru mengetahui lagi bahwa film-film Inggris telah menyumbang banyak bahasa film (film language) pada perfilman dunia, termasuk film dokumenter.


Kemudian ada yang harus dijawab dengan faktor-faktor yang menyebabkan ketiga film di atas belum masuk sebagai film dokumenter awal. Untuk menjawabnya perlu diperjelas terlebih dahulu perbedaan antara film dokumenter dan newsreel. Film dokumenter menurut Frank Beaver yang mengutip World Union of Documentary adalah film yang metode pembuatan filmnya merekam segala aspek realitas dan objeknya merupakan hal-hal faktual. Terkadang dapat dibenarkan menggunakan rekonstruksi (pemeragaan) yang baik. Tujuan penggunaan hal ini adalah untuk beberapa alasan. Pertama, supaya filmnya menjadi lebih menarik karena dapat melibatkan aspek emosi penonton. Kedua, untuk memperluas pengetahuan dan pemahaman penonton. Ketiga, untuk memberikan solusi permasalahan dalam film tersebut, baik dalam bidang ekonomi, budaya dan hubungan antar manusia (119).


Kata film di sini bukanlah aspek teknis dan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, film merupakan lakon dari cerita gambar hidup (414). Adanya kata cerita memberikan konsekuensi di dalamnya, yaitu harus ada plot, ruang, waktu, aspek dramatik dan subjek atau tokoh. Film dokumenter adalah film yang memungkinkan subjeknya bukan manusia. Oleh karena itu, ketiga film Brighton School di atas tetap bisa dianggap sebagai film dokumenter. Film-film itu memenuhi kriteria-kriteria yang telah disebutkan sebelumnya. Ide utamanya adalah proses dalam aktivitas tertentu. Subjeknya terdapat manusia yang menjadi pengantar cerita dalam proses aktivitasnya. Plotnya adalah proses dalam pembuatan atau aktivitas penambangan. Ruangnya ada di pabrik dan tempat penambangan. Waktunya adalah masa pada saat itu, yaitu tahun 1900-an dan awal 1910-an. Dramatisasi yang mencolok terdapat pada film Making Christmas Crackers (1910) dan A Day in the Life of a Coalminer (1910) yang menghadirkan pengadeganan di dalamnya agar lebih menarik.


Faktor pertama yang menyebabkan film-film ini dianggap hilang adalah dampak dari Perang Dunia I yang dimulai pada tahun 1914. Martin Scorsese pernah menceritakan hal ini di dalam film Hugo (2011) yang mengangkat seorang sineas Prancis bernama Georges Méliès. Saat Perang Dunia I terjadi, ia lebih rela membakar film-filmnya daripada dirampas oleh negara untuk dijadikan boot-heel (sol sepatu) tentara Prancis. Pada masa itu bahan baku film masih berbentuk seluloid. Lembaga paten di Inggris juga menjelaskan bahwa mereka juga memanfaatkan seluloid untuk boot-heel tentara mereka. Artinya, masih ada kemungkinan bahwa film-film dokumenter Brighton School tidak hanya tiga film di atas, tetapi masih banyak lagi. Mungkin saja film-film itu ikut dilebur untuk dijadikan boot-heel tentara oleh pemerintahan mereka pada masa itu.


Faktor kedua adalah hegemoni wacana film dunia yang dari awal dikuasai oleh Amerika Serikat dan Prancis. Bukti paling nyata adalah buku pegangan dalam pendidikan film dunia hanya ada dua, yaitu Film Art: An Introduction karya David Bordwell, Kristin Thompson serta Jeff Smith yang berasal dari Amerika Serikat; dan Aesthetic of Film karya Jacques Aumont, Michel Marie, Alain Bergala dan Marc Venet yang berasal dari Prancis. Penulisan buku-buku sejarah film pun jarang sekali memasukkan Brighton School dalam pembahasannya. Hal ini bisa dimaklumi karena gerakan di Inggris ini menyumbang begitu banyak bahasa sinematik yang selama ini sudah diklaim oleh Amerika Serikat ataupun Prancis. Perbincangan tentang kongres The International Federation of Film Archives (FIAF) di kota Brighton juga hanya sekali disinggung dalam buku Film History: An Introduction karya Kristin Thompson dan David Bordwell yang diterbitkan pada tahun 2003. Pada edisi terbarunya isu tersebut bahkan sudah tidak dibahas lagi.



IV. KESIMPULAN


Setidaknya ada tiga film dari Brighton School yang bisa dianggap sebagai film dokumenter awal, yaitu A Visit to Peek Frean and Co.’s Biscuit Works (1906) dan Making Christmas Crackers (1910) dari Cricks & Martin Co.; serta A Day in the Life of a Coalminer (1910) dari Kineto Co. Karena baru ditemukan pada tahun 1970-an, maka tidak mengherankan kalau John Grierson baru melihat film model seperti itu pada film Moana (1926) karya Robert Flaherty. Walaupun teknologi informasi sudah sedemikian majunya, penulisan sejarah dengan menyertakan bukti konkret ternyata belum cukup untuk melakukan klaim bahwa suatu karya merupakan karya pertama di dunia. alat tersebut Kinetograph Camera. Cara untuk melihat pertunjukan alat ini belum menggunakan sistem proyeksi, tetapi dengan cara mengintip. Oleh karena itu, setiap film hanya bisa disaksikan oleh satu orang saja. Edison memberi alat untuk menonton ini dengan nama Kinetoscope.




DAFTAR PUSTAKA


1. Buku


Beaver, Frank Eugene. Dictionary of Film Terms: The Aesthetic Companion to Film Analysis. New York: Twayne Publisher, 1994.


Herlina, Nina. Metode Sejarah. Edisi Revisi Kedua. Bandung: Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat, 2022.


Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008.


Katz, Ephraim and Ronald Dean Nolen. The Film Encyclopedia: The Complete Guide to Film and the Film Industry. 7th Edition. New York: HarperCollins Publishers, 2012.


Nelmes, Jill (Ed.). Introduction to Film Studies. 5th Edition. Oxon: Routledge, 2011.


Thompson, Kristin and David Bordwell. Film History: An Introduction. 4th Edition. New York: McGraw Hill, 2018.



2. Jurnal


Abbas, Irwan. “Memahami Metodologi Sejarah Antara Teori dan Praktik” Jurnal Etnohistori, Vol. 1, No. 1, 2014, pp. 23-41.


Hermansyah, Kusen Dony. “Studi Perbandingan Wacana Film Dokumenter dengan Film Dokumentasi, Jurnalistik Televisi, dan Video Blogging” Jurnal Imaji, Vol. 13, No. 1, Maret 2022, pp. 57-68.


Hermansyah, Kusen Dony. “Kesalahan Pemikiran Tentang Riset dalam Pembuatan Film Dokumenter” Jurnal Imaji, Vol. 10, No. 2, Juli 2018, pp. 93-102.


Wardah, Eva Syarifah. “Metode Penelitian Sejarah” Jurnal Tsaqofah, (Vol. 12, No. 2, Juli-Desember 2014, pp. 163-175.


Wasino dan Endah Sri Hartatik. Metode Penelitian Sejarah: Dari Riset Hingga Penulisan. Yogyakarta: Magnum Pustaka Utama, 2018



3. Website



A Visit to Peek Frean and Co.’s Biscuit Works. Cricks and Martin Co., 1906, https://www.youtube.com/watch?v=8O2EYrueHNE


A Day in the Life of a Coal Miner. Kineto Production Company, 1910, https://www.youtube.com/watch?v=O7kgSKVCvfI




Tulisan ini dimuat dalam Jurnal Imaji Volume 13 Nomor 3 pada halaman 223-231. Diterbitkan pada bulan Desember 2022 oleh Fakultas Film dan Televisi – Insitut Kesenian Jakarta.


ISSN 1907-3097


https://imaji.ikj.ac.id/index.php/IMAJI/article/view/84/85

26 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Komentarze


bottom of page