PRINSIP DASAR FILM: MEDIUM SPECIFICITY
- Kusen Dony

- 15 Feb
- 6 menit membaca
MEDIUM SPECIFICITY: KEKHASAN MEDIUM FILM
ABSTRAK
Perkembangan teknologi digital dalam sinema memunculkan kembali perdebatan mengenai kekhasan medium film. Salah satu anggapan yang mengemuka menyatakan bahwa hilangnya indeksikalitas fotografis dalam sistem digital menyebabkan runtuhnya fondasi medium specificity. Kajian ini meninjau ulang anggapan tersebut melalui analisis konseptual terhadap perkembangan teori film dari tradisi klasik hingga perdebatan kontemporer. Pembahasannya menunjukkan bahwa kekhasan film sejak awal tidak sepenuhnya ditentukan oleh substrat materialnya, tetapi oleh cara medium tersebut mengorganisasi gambar, durasi, dan pengalaman penontonnya. Perubahan teknologi memang mentransformasikan proses produksi dan manipulasi imaji, tetapi tidak serta-merta menghapus struktur pengalaman audiovisual yang membedakan film dari bentuk media lainnya. Oleh karena itu, medium specificity lebih produktif dipahami sebagai perangkat analitis untuk membaca cara kerja film dalam konteks historis yang terus berubah. Artinya, pemahamannya bukan sebagai klaim esensial tentang bahan atau teknologi tertentu. Kebaruan tulisan ini terletak pada pergeseran fokus dari perdebatan mengenai materialitas menuju pemahaman operasional tentang cara film membentuk pengalaman visual dan temporal di era digital.
Kata kunci: medium specificity; sinema digital; teori film; pengalaman audiovisual
PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi digital dalam dua dekade terakhir telah mengubah secara signifikan lanskap produksi, distribusi, dan konsumsi audiovisual. Kamera digital menggantikan seluloid, perangkat lunak memungkinkan manipulasi citra secara presisi, dan platform daring memperluas ruang sirkulasi film di luar bioskop. Dalam konteks konvergensi media ini, batas antara film, televisi, video daring, dan konten digital menjadi semakin kabur (Andrew, 2010: 3–7). Perubahan tersebut memunculkan pertanyaan mendasar, yaitu apakah film masih memiliki kekhasan sebagai medium?
Salah satu argumen yang sering dikemukakan dalam perdebatan ini berkaitan dengan persoalan indeksikalitas. Dalam What is Cinema? Vol. 1 disebutkan bahwa imaji merupakan relasi kausal langsung dengan realitas yang direkam pada sistem fotografi analog (Bazin, 2005: 9–16). Sementara dalam sistem digital, imaji dibentuk melalui proses komputasional yang memungkinkan rekayasa dan manipulasi yang lebih luas. Pergeseran ini memunculkan anggapan bahwa fondasi medium specificity melemah. Bahkan disebutkan bahwa konsep tersebut tidak lagi relevan dalam ekosistem media digital (Carroll, 1996: 49–74).
Namun, reduksi kekhasan film semata-mata pada aspek material berisiko menyederhanakan sejarah pemikiran teori film itu sendiri. Sejak awal, diskusi tentang kekhasan medium film tidak hanya berkisar pada bahan yang berhubungan dengan teknologi, tetapi juga pada cara film membangun bentuk, mengelola durasi, serta membentuk pengalaman penonton (Andrew, 1984: 60–68). Artinya, pertanyaan tentang kekhasan film adalah tentang cara film bekerja sebagai sistem audiovisual, sehingga tidak selalu identik dengan pertanyaan tentang materialitasnya.
Pada era digital, persoalannya adalah apakah perubahan teknologi tersebut benar-benar mengubah struktur pengalaman sinematik? Apakah film kehilangan sifat indeksikalnya? Sejumlah pendekatan kontemporer bahkan menekankan bahwa medium perlu dipahami secara relasional dan historis, bukan sebagai esensi material yang tetap (Sjöl, 2022–2023: 99–103). Hal tersebut membuat isu medium specificity lebih tepat dipahami sebagai persoalan konseptual dan operasional, bukan persoalan teknis semata.
Berangkat dari konteks tersebut, kajian ini bertujuan meninjau ulang relevansi medium specificity dalam sinema digital. Khususnya dalam memposisikannya sebagai perangkat analitis untuk memahami cara film mengorganisasi gambar, durasi, dan pengalaman audiovisual dalam kondisi historis yang berubah. Artinya, kajiannya tidak mempertahankannya sebagai doktrin esensialis atau menolaknya sebagai konsep usang.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis analisis konseptual dalam kajian film. Fokus kajiannya pada penelaahan sistematis terhadap gagasan-gagasan teoretis mengenai kekhasan medium film. Artinya, fokus tersebut bukan terletak pada pengumpulan data empirisnya. Pendekatan ini dipilih karena persoalan medium specificity berkaitan dengan konstruksi konseptual dan historis dalam teori film dan bukan dengan pengukuran kuantitatif atau observasi lapangan.
Analisisnya dilakukan melalui tiga tahap dan yang pertama adalah mengidentifikasi asumsi dasar dalam tradisi teori film mengenai sumber kekhasan medium. Baik yang terletak pada materialitas yang berhubungan dengan teknologi, transformasi bentuk, relasi dengan realitas, maupun struktur pengalaman penonton. Tahapan ini bertujuan memetakan variasi posisi teoretis yang berkembang dalam sejarah pemikiran film.
Tahap kedua adalah melakukan perbandingan argumentatif antar-posisi tersebut. Tujuannya untuk melihat titik temu dan perbedaannya, terutama dalam menghadapi transformasi digital. Perbandingan ini memungkinkan evaluasi terhadap klaim bahwa digitalisasi membatalkan medium specificity. Sementara tahap ketiga merupakan pengujian konseptual terhadap praktik sinema digital kontemporer. Pengujian ini tidak bersifat studi kasus mendalam, tetapi evaluasi analitis terhadap cara film digital yang tetap mengorganisasi gambar, durasi, dan pengalaman audiovisual. Penelitian ini bertujuan untuk menilai relevansi medium specificity sebagai perangkat analitis dalam konteks historis yang berubah. Artinya, bukan menetapkan satu teori sebagai posisi normatif melalui prosedur yang digunakan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bagian ini menyajikan temuan konseptual bahwa medium specificity dipahami dalam tradisi teori film dan cara posisinya bergeser di era digital. Hasilnya diperoleh melalui perbandingan antara pendekatan klasik dan kritik kontemporer terhadap kekhasan medium film. Pembahasannya kemudian diarahkan untuk menilai apakah digitalisasi benar-benar menghapus kekhasan film atau justru mengubah cara penonton memahaminya.
Hasil
Analisis kajian ini menunjukkan bahwa medium specificity tidak pernah sepenuhnya dipahami sebagai sifat material yang tunggal dan stabil, terutama dalam sejarah teori film. Sementara dalam tradisi formalis, kekhasan film diletakkan pada kemampuannya mentransformasi realitas melalui pengolahan bentuk, komposisi visual, dan konstruksi ruang (Arnheim, 1957: 8–10). Kekhasan medium pada kerangka ini terletak pada cara film membangun struktur visualnya yang tidak identik dengan dunia yang direkam.
Sebaliknya, kekhasan film juga dipahami melalui hubungannya dengan realitas dan durasi dalam tradisi realisme. Dalam What is Cinema? Vol. 1, imaji fotografis dianggap memiliki hubungan kausal dengan dunia (Bazin, 2005: 9–16). Sementara pada What is Cinema? Vol. 2, pengalaman waktu dalam film memungkinkan ambiguitas dan kompleksitas peristiwa tetap terjaga melalui durasi dan kedalaman ruang (Bazin, 2005: 16–40). Kekhasan film pada perspektif ini berada pada cara medium tersebut mempertahankan pengalaman temporal yang khas, sehingga bukan pada bentuknya saja. Pada sisi lain, pendekatan historis-dialektis menunjukkan bahwa kedua kecenderungan tersebut tidak saling meniadakan. Namun, kedua pendekatan di atas membentuk ketegangan produktif dalam sejarah teori film (Andrew, 1984: 60–68). Karena kekhasan medium muncul sebagai hasil negosiasi antara konstruksi formal dengan keterhubungannya pada dunia.
Pada konteks sinema digital, muncul kritik terhadap pencarian satu sifat esensial medium. Pendekatan ini menolak reduksi medium pada satu properti material tertentu, sehingga menekankan pentingnya memahami medium melalui praktik serta fungsi representasionalnya (Carroll, 1996: 49–74). Reformulasi yang lebih lanjut memandang medium specificity sebagai operasi analitis yang bersifat relasional dan historis, sehingga tidak menjadi klaim esensial mengenai bahan teknologis (Sjöl, 2022–2023: 99–103). Medium film dapat dipahami sebagai konfigurasi praktik yang membentuk pola respons tertentu dalam pengalaman penonton (Torregrossa, 2019: 7). Oleh karena itu, hasil analisisnya secara keseluruhan menunjukkan bahwa medium specificity bersifat dinamis dan kontekstual dalam sejarah teori film. Sementara digitalisasi mengubah kondisi produksi imaji, tetapi tidak secara otomatis membatalkan konsep kekhasan medium filmnya.
Pembahasan
Medium specificity secara lebih produktif merupakan perangkat analitis untuk membaca bahwa film bekerja dalam kondisi historis tertentu. Dalam hal ini, digitalisasi menjadi fase baru dalam negosiasi antara teknologi, bentuk, dan pengalaman audiovisual, bukan akhir dari kekhasan medium film. Kekhasan film tidak hilang, tetapi bergeser dari persoalan material menuju persoalan operasional. Khususnya pada cara film mengorganisasi pengalaman visual dan temporal dalam lanskap media yang semakin terintegrasi.
Temuan di atas mengindikasikan bahwa anggapan mengenai “runtuhnya” medium specificity di era digital berangkat dari pemahaman yang terlalu sempit terhadap kekhasan medium sebagai sifat material. Jika kekhasan film hanya dikaitkan dengan indeksikalitas seluloid, maka digitalisasi memang terasa sebagai ancaman. Namun, pembacaan secara historis menunjukkan bahwa kekhasan film sejak awal juga berkaitan dengan caranya mengorganisasi bentuk, durasi, dan pengalaman perseptual.
Pada pendekatan formalis, kekhasan film tetap dapat ditemukan terlepas dari teknologi perekaman yang digunakan, misalnya dalam struktur komposisi, framing, maupun ritme editing (Arnheim, 1957: 8–10). Sementara Andre Bazin (2005: 16–40) menuliskan untuk pendekatan realisme di dalam What is Cinema? Vol. 2. Menurutnya, hubungan film dengan dunia ditentukan oleh cara durasi dan ambiguitas dipertahankan dalam representasinya, sehingga tidak ditentukan oleh jejak material semata. Dengan kata lain, perubahan teknologi tidak serta-merta menghapus struktur pengalaman sinematik penonton film.
Reformulasi relasional terhadap medium specificity menjadi semakin relevan dalam konteks konvergensi media. Jika medium dipahami sebagai praktik historis dan pola organisasi pengalaman (Sjöl, 2022–2023: 99–103), maka film digital tetap memiliki kekhasan sejauh dapat mengatur hubungan antara imaji, waktu, dan penonton secara khas. Pendekatan ini juga menghindarkan diskusi dari jebakan esensialisme maupun relativisme media (Carroll, 1996: 49–74).
KESIMPULAN
Perkembangan teknologi digital memang menggeser cara film diproduksi dan dimanipulasi, tetapi hal tersebut tidak serta-merta menghapus kekhasannya sebagai medium. Anggapan bahwa medium specificity runtuh karena hilangnya indeksikalitas material berangkat dari asumsi bahwa identitas film sepenuhnya ditentukan oleh material teknologinya. Meskipun sebenarnya sejarah teori film memperlihatkan bahwa kekhasan medium selalu berkaitan dengan cara film mengorganisasi bentuk, durasi, dan pengalaman penonton, bukan sekadar dengan bahan yang digunakannya.
Jika kekhasan film dipahami sebagai cara medium ini membangun hubungan antara gambar, waktu, dan persepsi, maka digitalisasi justru memperluas medan operasionalnya. Manipulasi imaji yang semakin kompleks mengubah kondisi tempat struktur tersebut bekerja dan bukan menghapus struktur pengalaman sinematiknya. Bagaimanapun, film akan tetap mengatur ruang, ritme, dan temporalitas secara terstruktur. Melalui pengorganisasian ini, film membedakan dirinya dari bentuk media lain.
Persoalan utamanya adalah bukan film yang kehilangan esensinya di era digital, tetapi caranya terus beradaptasi tanpa melepaskan logika pengalaman audiovisual yang menjadi cirinya. Selama film masih membangun pengalaman visual dan temporal yang terorganisasi dalam durasi, maka medium specificity tidak kehilangan relevansinya. Artinya, medium adalah kerangka untuk memahami bahwa film terus bekerja di tengah perubahan sejarah media dan bukan warisan teknologi dari masa seluloid.
DAFTAR PUSTAKA
Arnheim, Rudolf. Film as Art. University of California Press, 1957.
Andrew, Dudley. Concepts in Film Theory. Oxford University Press, 1984.
Bazin, André. What Is Cinema? Translated by Hugh Gray, vols. 1–2, University of California Press, 2005.
Carroll, Noël. Theorizing the Moving Image. Cambridge University Press, 1996.
Sjol, Jordan. “A Diachronic, Scale-Flexible, Relational, Perspectival Operation: In Defense of (Always-Reforming) Medium Specificity.” JCMS: Journal of Cinema and Media Studies, Vol. 62, No. 5, 2022–2023, hal. 99–121.
Torregrossa, Clotilde. Remember the Medium! Film, Medium Specificity, and Response-Dependence. 2019. University of St Andrews, PhD Dissertation.





Komentar