top of page

PRINSIP DASAR FILM: PRO-FILMIC

PRO-FILMIC  SEBAGAI DASAR KERJA FILM ABSTRAK Kajian film umumnya memulai analisis dari bentuk, yaitu cara gambar disusun, adegan diedit, dan narasi dibangun. Pendekatan ini penting, tetapi sering melewatkan satu tahap yang lebih awal, yaitu kondisi yang direkam sebelum organisasi sinematik bekerja. Kajian ini membahas kembali konsep pro-filmic  sebagai lapisan pra-sinematik yang mendahului penyusunan bentuk filmis. Film tidak dimulai dari editing , tetapi dari sesuatu yang terlebih dahulu tersedia untuk direkam atau disimulasikan. Kajian ini mengusulkan pergeseran titik awal analisis film dengan mereposisi pro-filmic  sebagai titik awal kerja film yang sering terabaikan dalam kajian formal. Artinya, pro-filmic  tidak sekadar istilah teknis produksi, yaitu dari organisasi bentuk menuju kondisi yang mendahuluinya. Bagaimanapun konsep ini tetap relevan, baik dalam konteks analog maupun digital, karena film selalu bergantung pada kondisi awal sebelum makna dan struktur dibangun. Kata kunci: pro-filmic ; pra-sinematik; analisis film; organisasi bentuk; sinema digital. PENDAHULUAN Film sering dipahami sebagai hasil penyusunan imaji bergerak menjadi cerita. Ketika membahas film, perhatian biasanya tertuju pada cara gambar dibingkai, adegan dirangkai, dan makna dibentuk melalui editing . Namun, terdapat satu tahap yang lebih awal dan jarang dijadikan titik acuan analisis, terutama sebelum seluruh proses penyusunan itu berlangsung. Selalu Dimulai dari Editing ? Dalam praktik pembelajaran film, diskusi hampir selalu dimulai dari editing  atau montage . Mahasiswa film akan selalu belajar tentang shot , continuity , ritme, dan struktur tiga babak sebelum membicarakan hal lainnya. Pendekatan ini sejalan dengan tradisi teori formal yang memahami film sebagai sistem relasi antar-unsur audiovisual, lalu diorganisasikan menjadi struktur bermakna (Bordwell et al., 2023: 4–7). Film dianggap sebagai hasil dari editing , yaitu cara gambar, suara, dan durasi dirancang agar menghasilkan pengalaman tertentu bagi penonton. Pendekatan tersebut tentu tidak keliru, karena bisa membantu menjelaskan cara makna dibuat melalui organisasi bentuk. Namun, fokus yang terlalu cepat pada editing  membuat satu lapisan awal luput dari perhatian. Sesuatu tersebut terlebih dahulu harus ada sebelum dapat disusun. Pertanyaannya kemudian adalah apa yang sebenarnya ada sebelum gambar disusun? Pertanyaan Sederhana yang Jarang Diajukan Sebelum framing  bekerja, sudah ada ruang yang tersedia untuk direkam. Sebelum blocking  diatur, sudah ada tubuh yang menempati ruang tersebut. Bahkan sebelum editing  menyatukan shot  menjadi scene (adegan), terlebih dahulu ada hasil rekaman yang dibuat dengan kamera. Artinya, organisasi sinematik selalu bekerja atas sesuatu yang sudah lebih dahulu hadir. Lapisan awal inilah yang dalam teori film disebut sebagai pro-filmic , yaitu segala sesuatu yang berada di depan kamera sebelum menjadi imaji yang diolah lebih lanjut. Istilah ini membantu pembuat film melihat bahwa film terdiri dari kondisi yang mendahului pembentukan struktur tersebut dan tidak semata dari struktur bentuk. Jika memulai dari lapisan ini, maka analisis film dapat bergerak lebih lengkap. Karena tidak hanya membaca cara gambar disusun, tetapi juga memahami segala hal yang terlebih dahulu direkam atau disimulasikan. METODE PENELITIAN Tulisan ini menggunakan pendekatan analytical-conceptual inquiry  atau metode yang berfokus pada klarifikasi dan penataan ulang konsep dalam kerangka teori film. Analisisnya dilakukan melalui pembacaan kritis terhadap literatur teori film klasik maupun pembahasan kontemporer mengenai transformasi digital. Pendekatannya bertujuan meninjau kembali cara konsep-konsep yang sudah ada dapat dipahami secara lebih operasional dan tidak bertujuan untuk membuktikan teori metafisik baru tentang hakikat film. Fokus tulisannya menjelaskan urutan kerjanya, yaitu apa yang hadir terlebih dahulu? Bagaimana caranya direkam? Selain itu, juga bagaimana kemudian diorganisasikan menjadi bentuk? Oleh karena itu, metodenya akan diarahkan untuk memindahkan titik awal analisis, yaitu dari organisasi hasil akhir menuju kondisi awal yang memungkinkan organisasi tersebut terjadi. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembahasan berikut menyajikan hasil rekonstruksi konseptual tentang posisi pro-filmic dalam struktur medium film. Analisisnya difokuskan pada hubungan antara kondisi yang direkam, aparatus perekaman, dan organisasi sinematik sebagai pembentuk makna. Melalui pembedaan ini, pro-filmic  diposisikan sebagai kondisi pra-sinematik yang mendahului kerja bentuk dan bukan sebagai istilah teknis semata. Hasil Bagian ini menyajikan hasil rekonstruksi konseptual mengenai posisi pro-filmic  dalam struktur kerja film. Pembacaannya  didasarkan terhadap teori film formal dan refleksi mengenai relasi imaji dengan kondisi yang direkam. Kemudian akan terlihat bahwa sebelum organisasi sinematik bekerja, akan selalu terdapat lapisan awal yang menjadi dasar kemunculan imaji. Lapisan ini merupakan kondisi pra-organisasi yang mendahului pembentukan bentuk filmis. 1. Definisi dan Posisi Pro-Filmic Istilah pro-filmic  merujuk pada segala sesuatu yang berada di depan kamera sebelum menjadi imaji yang diolah lebih lanjut. Pada pengertian awalnya, konsep ini digunakan untuk menunjuk pada objek, ruang, tubuh, dan peristiwa yang hadir secara aktual sebelum direkam (Souriau, 1953: 3). Artinya, sudah ada kondisi yang tersedia untuk direkam sebelum framing , editing , atau struktur naratif bekerja. Film dalam tradisi teori formal merupakan sistem relasi antar-unsur audiovisual yang membentuk struktur bermakna (Bordwell, 1989: 3–6). Namun sistem tersebut mengandaikan adanya material yang telah lebih dahulu tersedia. Editing  bekerja atas shot  yang sudah direkam; framing  membingkai ruang yang sudah ada; sedangkan narasi menyusun peristiwa yang telah tertangkap kamera. Dari sini dapat ditegaskan pembedaan bahwa pro-filmic  sama dengan kondisi sebelum bentuk, sedangkan  film form  adalah organisasi setelah rekaman. Jika dilihat dari formulasi di atas, maka film dimulai dari kondisi yang memungkinkan penyusunan itu terjadi. 2. Pro-Filmic  sebagai Syarat Indeksikalitas Lapisan pra-sinematik ini juga menjelaskan bahwa imaji film memiliki hubungan dengan sesuatu yang pernah ada. Pada refleksi tentang fotografi dan sinema, imaji dianggap sebagai jejak dari kondisi yang pernah hadir di depan kamera (Bazin, 2005: 14–18). Film sebagai rangkaian fotografi bergerak, lalu mengandaikan keberadaan peristiwa atau objek yang telah direkam. Pandangan serupa menekankan bahwa film memungkinkan penonton melihat kembali dunia yang pernah hadir (Cavell, 1979: 23–30), sekaligus menyimpan dimensi historis dari momen yang telah berlalu (Rosen, 2001: 15–25). Ketiga perspektif ini menunjukkan satu hal yang sama, yaitu hubungan antara imaji dan sesuatu yang direkam tidak dapat dilepaskan dari kondisi awal yang mendahuluinya. Dengan kata lain, indeksikalitas hanya mungkin jika terdapat kondisi yang direkam terlebih dahulu, yaitu hubungan antara imaji dan sesuatu yang pernah ada. Tanpa sesuatu yang direkam, maka tidak akan ada jejak. Pembahasan Temuan pada bagian sebelumnya menunjukkan bahwa pro-filmic  merupakan kondisi pra-organisasi yang mendahului penyusunan bentuk filmis. Kondisi ini tidak pernah berdiri sendiri, karena akan selalu berada dalam hubungan dengan perangkat yang merekamnya; serta sistem yang menyusunnya menjadi struktur bermakna. Pada bagian pembahasan, uraiannya diperluas untuk melihat bahwa lapisan pra-sinematik tersebut dimediasi oleh aparatus dan caranya mengalami transformasi dalam konteks digital. 1. Kamera Tidak Pernah Netral Jika pro-filmic  adalah kondisi yang direkam, maka pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kondisi tersebut tampil sebagai imaji? Perangkat sinematik seperti kamera, lensa, sensor, posisi pengambilan gambar, akan membentuk cara realitas itu terlihat dan tidak semata-mata menangkap realitasnya (Comolli, 1980: 121–143). Oleh karena itu, segala hal yang masuk ke dalam bingkai adalah hasil seleksi dan segala sesuatu yang berada di luar frame  adalah hasil eksklusi. Ruang yang sama dapat terlihat luas atau sempit tergantung pilihan lensa. Tubuh yang sama dapat tampak dominan atau rentan tergantung camera angle -nya. Bahkan peristiwa yang direkam akan berubah maknanya ketika ditempatkan dalam komposisi visual tertentu. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa kondisi pro-filmic sejak awal telah melalui proses mediasi teknologis sebelum sampai ke tahap editing . Pemahaman ini penting untuk menghindari anggapan bahwa pro-filmic  identik dengan “realitas mentah”. Kondisi awal memang mendahului organisasi bentuk, tetapi hal itu tidak pernah hadir secara apa adanya. Bagaimanapun,  pro-filmic selalu berada dalam kerangka teknologis dan perspektival tertentu. Artinya, pro-filmic merupakan kondisi yang tersedia dalam relasi dengan aparatus perekaman dan bukan realitas murni. Analisis film dapat bergerak dari kondisi menuju organisasi dan bukan sebaliknya. Pada titik ini kebaruan pendekatan tersebut menjadi jelas, karena pembahasannya menempatkan perhatian pada segala sesuatu yang mendahului penyusunan tersebut, yaitu kondisi yang memungkinkan gambar itu ada.  Pergeseran ini tidak menolak analisis bentuk, tetapi memindahkan titik awalnya. Pro-filmic  direposisi sebagai lapisan kerja awal film yang sering terlewat dalam kajian formal dan bukan sekadar istilah teknis produksi. 2. Transformasi Digital dan Krisis Indeksikalitas Perkembangan teknologi digital menimbulkan pertanyaan baru mengenai relasi antara imaji dan kondisi yang direkam. Hubungan tersebut pada sinema analog relatif jelas, yaitu gambar bergerak berasal dari proses fotografis yang memiliki kontak material dengan objek yang direkam. Sementara pada konteks digital, imaji dapat dimodifikasi, digabungkan, atau bahkan diciptakan tanpa keberadaan objek fisik secara langsung. Situasi ini menjadi problematika relasi indeksikal antara imaji dan referensinya (Allison, 2009: 1–2). Pada pembahasan yang lebih sistematis, digitalisasi bahkan dilihat sebagai pergeseran dari jejak fotografis menuju representasi berbasis kode. Hal ini memicu krisis indeksikalitas dalam sinema (Rodowick, 2007: 9–22). Computer generated imagery  (CGI) memungkinkan penciptaan ruang, kota, bahkan karakter yang tidak pernah hadir secara aktual di depan kamera. Imaji tidak lagi selalu berfungsi sebagai jejak fotografis dari dunia yang pernah ada. Namun, situasi ini tidak berarti bahwa film kehilangan kondisi awalnya. Bahkan dalam produksi berbasis CGI, tetap terdapat tahap pra-organisasi dan di antaranya adalah pemodelan tiga dimensi, perancangan tekstur, pengaturan cahaya virtual, serta parameter simulasi sebelum adegan di- render . Uraian di atas memperjelas bahwa hubungan terhadap dunia aktual mungkin berubah, tetapi kebutuhan akan kondisi awal tidak hilang.  Sesuatu yang berubah adalah sifatnya, yaitu dari kondisi fisik yang direkam menjadi kondisi yang dirancang dan disimulasikan. 3. Simulasi sebagai Kondisi Baru Digitalisasi memperluas pro-filmic dan tidak menghapusnya, karena konsep ini akan tetap relevan dan film akan selalu membutuhkan sesuatu yang mendahului organisasi bentuk, baik analog maupun digital. Dalam media digital, imaji adalah representasi numerik yang dapat dihitung dan dimanipulasi (Manovich, 2001: 27–45). Proses ini memperluas cakupan pro-filmic  dari objek fisik menuju struktur data. Misalnya, motion capture  yang merekam gerak tubuh dalam bentuk informasi digital sebelum diolah menjadi karakter virtual. Bahkan pada animasi penuh, desain karakter dan lingkungan berfungsi sebagai kondisi pra-organisasi sebelum penyusunan adegan berlangsung. Perubahan di atas menunjukkan bahwa pro-filmic tidak lagi terbatas pada segala sesuatu yang hadir secara fisik di depan kamera. Karena hal tersebut mencakup seluruh kondisi awal yang memungkinkan imaji terbentuk, baik aktual maupun simulatif. Pro - filmic  dalam sinema digital bisa dipahami sebagai recorded or simulated condition of appearance (kondisi tampilan yang direkam atau disimulasikan). 4. Reformulasi Operasional Berdasarkan pembahasan sebelumnya, pro-filmic  dapat dirumuskan ulang secara operasional sebagai titik awal analisis film. Reformulasi ini bukan untuk penyederhanaan teoretis, tetapi sebagai upaya menjadikan konsep tersebut sebagai alat baca yang dapat diterapkan secara konkret. Oleh karena itu, setidaknya terdapat tiga pertanyaan dasar yang dapat diajukan sebelum menganalisis film, yaitu apa yang tersedia untuk direkam atau disimulasikan? Dengan teknologi apa kondisi tersebut diubah menjadi imaji? Kemudian, bagaimana imaji tersebut kemudian disusun menjadi struktur bermakna? Pendekatan ini menjaga perhatian pada organisasi bentuk, tetapi tidak mengabaikan lapisan yang mendahuluinya. Sementara analisisnya tidak lagi dimulai dari editing  semata, tetapi dari hubungan antara kondisi awal, aparatus, dan penyusunan. 5. Implikasi Praktis Pergeseran titik awal analisis membawa sejumlah implikasi. Pada analisis film, pembedaan antara “yang direkam” dan “yang disusun” membantu menjelaskan sumber maknanya. Karena sebagian makna berasal dari kondisi yang tersedia, seperti ruang, tubuh, situasi. Sementara sebagian lainnya lahir dari penyusunan ulang melalui editing  dan komposisi visual. Oleh karena itu, kesadaran terhadap lapisan ini membuat pembacaan film menjadi lebih sistematis. Pada film dokumenter, dimensi ini memiliki konsekuensi etis. Karena kehadiran kamera bisa memengaruhi perilaku subjek yang direkam. Pro-filmic  dalam dokumenter bersifat relasional dan interaktif,  karena tanggung jawab pembuat film berada pada pembentukan situasi awal yang direkam dan bukan hanya pada tahap pascaproduksi. Sementara dalam sinema digital, kesadaran terhadap tahap pra-organisasi membantu menjelaskan bahwa CGI dan animasi tetap memiliki kondisi awal. Artinya, dunia digital tidak muncul dari kekosongan, tetapi dibangun melalui desain, parameter, dan simulasi sebelum menjadi adegan yang tersusun.  Bagian ini menunjukkan bahwa pro-filmic  merupakan lapisan kerja film yang tetap relevan dalam perubahan teknologi. Karena menunjuk pada kondisi awal yang memungkinkan imaji terbentuk dan bukan hanya pada segala hal yang ada di depan kamera. Dengan memperluas pemahamannya, analisis film dapat bergerak secara lebih menyeluruh, yaitu dari kondisi awal menuju organisasi bentuk. Pendekatan ini membantu membaca film secara lebih utuh, dari kondisi material awal hingga struktur visual yang tersusun. KESIMPULAN Pembahasan ini menunjukkan bahwa film tidak dimulai dari editing , tetapi dari kondisi yang terlebih dahulu tersedia untuk direkam atau disimulasikan. Pro-filmic  menjadi lapisan pra-sinematik yang mendahului organisasi bentuk, sehingga analisis film tidak cukup berhenti pada cara gambar disusun. Namun, analisis tersebut juga perlu mempertimbangkan segala sesuatu yang mendahului penyusunan tersebut. Adanya pembedaan ini menjadikan film sebagai proses yang bertahap, yaitu dari kondisi awal, melalui aparatus, menuju struktur bermakna. Pada sinema analog, kondisi awal tersebut berkaitan dengan jejak fotografis terhadap dunia aktual. Sementara dalam sinema digital, relasi tersebut berubah menjadi berbasis data dan simulasi. Namun dalam kedua konteks tersebut, kebutuhan akan kondisi pra-organisasi tetap tidak hilang. Transformasi teknologi bisa mengubah sifat relasi, tetapi tidak menghapus lapisan awalnya. Pemindahan titik awal analisis dari organisasi bentuk menuju kondisi pra-sinematik,  membuat reposisi pro-filmic  sebagai komponen kerja film yang selama ini kurang diperhatikan dalam kajian formal. Pergeseran ini tidak menolak teori bentuk, tetapi melengkapinya. Bagaimanapun, film tetap merupakan sistem organisasi, terutama dengan sistem tersebut selalu bekerja atas sesuatu yang telah lebih dahulu ada. DAFTAR PUSTAKA Allison, Tanine. “The Virtual Life of Film.” Film Quarterly , Vol. 63, No. 1, 2009, hal. 2–7. Bazin, André. What is Cinema? Volume 1 & 2 . Diterjemahkan oleh Hugh Gray, University of California Press, 2005. Bordwell, David. Making Meaning: Inference and Rhetoric in the Interpretation of Cinema . Harvard University Press, 1989. Bordwell, David, Kristin Thompson, & Jeff Smith.  Film Art: An Introduction . Edisi Ketigabelas, McGraw-Hill Education, 2023. Cavell, Stanley. The World Viewed: Reflections on the Ontology of Film . Harvard University Press, 1979. Comolli, Jean-Louis. “Machines of the Visible.” The Cinematic Apparatus , Diedit oleh Teresa de Lauretis and Stephen Heath, Macmillan Press, 1980, hal. 121–143. Manovich, Lev. The Language of New Media . MIT Press, 2001. Rodowick, D. N. The Virtual Life of Film . Harvard University Press, 2007. Rosen, Philip. Change Mummified: Cinema, Historicity, Theory . University of Minnesota Press, 2001. Souriau, Étienne. L’Univers Filmique.  Flammarion, 1953.

PRINSIP DASAR FILM: PRO-FILMIC
  • Instagram
  • YouTube
  • Twitter
  • Tumblr Social Icon
  • Tumblr
  • Facebook
  • Facebook

©2020 by kadehara. Proudly created with Wix.com

bottom of page